JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa saham di seluruh dunia mengalami penurunan signifikan setelah pengumuman terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai penerapan tarif impor baru.
Kebijakan baru ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama terkait potensi lonjakan inflasi, perlambatan laju pertumbuhan ekonomi, dan semakin memanasnya tensi perdagangan global.
Menurut laporan dari BBC, indeks S&P 500, yang menjadi tolok ukur kinerja 500 perusahaan besar di AS, mencatat penurunan harian paling drastis sejak masa awal pandemi Covid-19 yang melanda ekonomi dunia pada tahun 2020.
Saham perusahaan di sektor ritel dan teknologi, termasuk nama-nama besar seperti Apple, Nike, dan Target, mengalami penurunan nilai lebih dari 9 persen.
Baca juga: Kontroversi Tarif Impor Donald Trump Picu Reaksi Keras China, Taiwan hingga Australia
Pasar Asia dan Eropa Mengalami Koreksi
Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik terus mengalami pelemahan selama dua hari berturut-turut. Pada hari Jumat pagi (waktu setempat), indeks Nikkei 225 di Jepang mencatatkan penurunan sebesar 2,7 persen, sementara indeks ASX 200 di Australia melemah sebesar 1,6 persen, dan Kospi Korea Selatan juga mengalami penurunan yang moderat.
Aktivitas perdagangan di pasar China dan Hong Kong dihentikan sementara karena adanya libur memperingati Festival Qingming.
Di benua Eropa, indeks FTSE 100 Inggris mengalami penurunan sebesar 1,5 persen pada hari Kamis. Tren penurunan serupa juga terjadi di bursa-bursa utama Eropa lainnya, sejalan dengan koreksi yang terjadi dari Asia hingga Amerika.
Sementara itu, harga emas, yang sering dianggap sebagai aset yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi, sempat mencapai rekor tertinggi sebesar 3.167,57 dollar AS per ons (setara dengan sekitar Rp50,8 juta) sebelum akhirnya mengalami koreksi. Nilai tukar dolar AS juga terpantau melemah terhadap mata uang utama dunia.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengungkapkan keprihatinan yang mendalam dan memprediksi bahwa volume perdagangan global berpotensi menyusut sebesar 1 persen pada tahun ini sebagai dampak dari penerapan tarif tersebut.
Baca juga: Respons Apindo soal Kebijakan Tarif Trump: Biaya Produksi Industri dan Ekspor Kena Dampaknya
Reaksi dari Berbagai Negara dan Pasar
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan kepada perusahaan-perusahaan Eropa untuk menangguhkan rencana investasi mereka di AS.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengumumkan rencana untuk membalas dengan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap kendaraan impor dari AS.
Sebelumnya, Trump telah memberlakukan tarif sebesar 25 persen pada Kanada dan Meksiko, meskipun belum ada penambahan bea masuk baru untuk kedua negara tersebut dalam pengumuman terbarunya.
Saat ini, banyak perusahaan menghadapi dilema: apakah akan menanggung beban tarif tersebut, membaginya dengan mitra, atau menaikkan harga jual kepada konsumen.
Pilihan terakhir berisiko menurunkan permintaan, mengingat belanja konsumen AS menyumbang sekitar 10-15 persen dari total ekonomi global.
“Kita melihat para pengecer hancur sekarang karena tarif diperluas ke negara-negara yang tidak kita duga,” kata Jay Woods, kepala strategi global di Freedom Capital Markets. Ia juga memperkirakan bahwa gejolak pasar akan terus berlanjut.
PHK dan Penutupan Sementara Produksi
Beberapa perusahaan mulai mengambil langkah-langkah drastis. Stellantis, produsen mobil Jeep dan Fiat, menghentikan sementara kegiatan produksi di pabrik-pabrik mereka di Toluca (Meksiko) dan Windsor (Kanada) sebagai akibat dari tarif 25 persen atas mobil impor.
Kebijakan ini juga berdampak pada sekitar 900 pekerja di lima pabrik AS yang memasok komponen ke kedua lokasi tersebut.
Perusahaan-Perusahaan Besar Terpukul
Di pasar saham, Nike mencatatkan penurunan paling signifikan di antara perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500, dengan harga sahamnya merosot sebesar 14 persen. Apple, yang sangat bergantung pada rantai pasokan di China dan Taiwan, mengalami penurunan sebesar 9 persen. Saham Target melemah sekitar 10 persen, dan Harley-Davidson juga turun 10 persen.
Saham Adidas anjlok lebih dari 10 persen, Puma turun 9 persen, sementara Pandora dan LVMH (Louis Vuitton Moet Hennessy) juga terkena dampak dari tarif yang diberlakukan atas produk-produk dari Uni Eropa dan Swiss.
Baca juga: Kebijakan RI Dituduh Sebabkan AS Kenakan Tarif Trump 32 Persen, Begini Saran Kadin
Ancaman Resesi
Seema Shah, Kepala Strategi Global di Principal Asset Management, berpendapat bahwa ekonomi AS berpotensi menuju resesi jika tidak ada kebijakan pendukung lainnya, seperti pemotongan pajak besar-besaran yang sebelumnya dijanjikan oleh Trump.
“Tarif yang tinggi akan menjadi beban langsung bagi perekonomian, sementara manfaatnya—jika ada—baru akan terasa dalam jangka panjang,” kata Shah.
Ia juga berpendapat bahwa ambisi Trump untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terwujud.
Trump Klaim Ekonomi AS Akan “Melonjak”
Dalam pernyataan yang disampaikan di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa penerapan tarif minimum sebesar 10 persen atas seluruh impor global akan memacu pertumbuhan ekonomi AS, meningkatkan penerimaan negara, dan mendorong kembalinya sektor manufaktur ke dalam negeri.
“Saya pikir ini berjalan dengan sangat baik. Ini seperti operasi besar pada seorang pasien. Saya katakan, ini akan menjadi seperti itu,” ujar Trump, Kamis (3/4/2025), seperti yang dilansir oleh BBC.
“Pasar akan melonjak. Saham akan melonjak. Negara ini akan melonjak,” sambungnya.
Namun, reaksi pasar justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Para investor merespons negatif kebijakan ini, yang dinilai berpotensi meningkatkan harga barang dan memperlambat laju konsumsi rumah tangga.
Trump juga berencana untuk menaikkan tarif secara signifikan untuk barang-barang yang berasal dari sejumlah negara.
China akan dikenakan tarif gabungan hingga sebesar 54 persen, sementara Uni Eropa akan dikenai bea masuk sebesar 20 persen.