PIKIRAN RAKYAT – Sebuah gebrakan ekonomi global terjadi ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan serangkaian kebijakan tarif impor baru pada hari Rabu, 2 April 2025. Keputusan ini langsung mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh pasar dunia. Trump mengonfirmasi penerapan tarif dasar sebesar 10% untuk semua barang impor yang masuk ke AS, serta pengenaan tarif yang lebih tinggi secara signifikan terhadap sejumlah negara, termasuk mitra dagang utama seperti China, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Langkah ini secara dramatis memperdalam jurang perang dagang yang sudah ada dan memicu kekhawatiran mendalam tentang prospek stabilitas ekonomi global dalam jangka pendek maupun panjang.
Donald Trump Batalkan Rencana Relokasi Warga Gaza, Inilah Tanggapan Hamas
Tarif Baru: Mengubah Lanskap Perdagangan Global
Dalam pidatonya yang disampaikan di Taman Mawar Gedung Putih, Donald Trump bersikeras bahwa penerapan tarif ini adalah sebuah tindakan “balasan” yang diperlukan terhadap kebijakan perdagangan negara lain yang dianggapnya merugikan kepentingan ekonomi AS secara tidak adil.
“Selama beberapa dekade, negara kita telah dieksploitasi, dirampok, diperlakukan tidak adil, dan dimanfaatkan oleh negara-negara, baik yang dekat maupun yang jauh, baik sekutu maupun lawan,” tegasnya.
Struktur tarif baru ini mencakup pungutan sebesar 34% untuk semua impor yang berasal dari China, yang merupakan peningkatan substansial dari tarif 20% yang sebelumnya telah berlaku. Jepang menghadapi tarif sebesar 24%, Vietnam 46%, dan Korea Selatan 25%. Bahkan Uni Eropa pun tidak luput dari dampak, dengan tarif yang dikenakan sebesar 20%.
Menurut keterangan seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonim, tarif-tarif ini akan secara resmi diberlakukan mulai 9 April 2025, sementara tarif dasar 10% akan mulai berlaku pada hari Sabtu, 5 April 2025. Namun, terdapat pengecualian untuk beberapa komoditas tertentu, seperti tembaga, produk farmasi, semikonduktor, kayu, emas, energi, dan “mineral tertentu yang tidak tersedia di AS”.
Selain itu, Donald Trump juga mengumumkan penutupan celah perdagangan yang selama ini memungkinkan pengiriman paket bernilai rendah (di bawah 800 dolar AS atau setara dengan Rp13,2 juta) bebas bea dari China dan Hong Kong, sebuah kebijakan yang dikenal dengan istilah “de minimis.” Peraturan baru ini akan resmi berlaku efektif mulai tanggal 2 Mei 2025.
Donald Trump Menyatakan Penguasaan Greenland Vital untuk Perdamaian Dunia
Pasar Keuangan Bergejolak: Saham Terjun Bebas, Harga Minyak Anjlok
Pengumuman mengenai tarif ini langsung menyebabkan kekacauan dan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kontrak berjangka saham AS mengalami penurunan tajam setelah pengumuman tersebut, dengan Nasdaq berjangka turun sebanyak 4%, S&P 500 berjangka merosot 3,3%, dan Nikkei berjangka anjlok lebih dari 4%.
Pasar Asia juga terpukul keras oleh dampak kebijakan ini, dengan saham Australia mengalami penurunan sebesar 2%. ETF Vietnam Van Eck (VNM.Z) mengalami penurunan tajam lebih dari 8% dalam perdagangan setelah jam kerja normal.
Sektor teknologi muncul sebagai salah satu yang paling rentan, terutama karena China merupakan pusat manufaktur utama bagi banyak perusahaan besar AS. Saham Apple (AAPL.O) mengalami penurunan hampir 7% dalam perdagangan setelah jam kerja normal.
“Kami akan mengkategorikan daftar tarif ini sebagai ‘lebih buruk dari skenario terburuk’ yang ditakutkan oleh para pelaku pasar,” ujar seorang analis dari Wedbush.
Harga minyak juga tidak luput dari dampak. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih dari 2% menjadi 69,73 dolar AS (Rp1,1 juta) per barel, sementara Brent berjangka turun menjadi 74,95 dolar AS (Rp1,2 juta) per barel. Harga minyak sempat mengalami kenaikan sebelum akhirnya jatuh ke wilayah negatif setelah Trump mengumumkan tarif baru ini.
“Harga minyak mentah telah menghentikan reli bulan lalu, dengan Brent menemukan beberapa resistensi di atas 75 dolar AS (Rp1,24 juta), dengan fokus untuk saat ini beralih dari pengurangan pasokan yang dipimpin oleh sanksi ke pengumuman tarif Trump dan potensi dampak negatifnya pada pertumbuhan dan permintaan,” jelas Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
Reaksi Global dan Bayangan Resesi
Para pemimpin dunia bereaksi dengan kekhawatiran yang mendalam terhadap kebijakan Donald Trump ini. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyatakan dengan tegas bahwa perang dagang hanya akan merugikan konsumen dan tidak akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yang terlibat.
“Kami akan melakukan segala upaya untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, dengan tujuan menghindari perang dagang yang pasti akan melemahkan Barat demi keuntungan pemain global lainnya,” tegas Meloni.
Di AS sendiri, kebijakan ini juga menghadapi kritik tajam dari berbagai kalangan politisi. Gregory Meeks, anggota Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR, mengecam keras langkah Trump sebagai beban yang sangat berat bagi rakyat Amerika.
“Trump baru saja menghantam orang Amerika dengan kenaikan pajak regresif terbesar dalam sejarah modern – tarif besar-besaran pada semua impor. Kebijakannya yang sembrono tidak hanya merusak pasar, tetapi juga akan merugikan keluarga pekerja secara tidak proporsional,” tutur Meeks.
Para ekonom memperingatkan bahwa tarif ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan risiko terjadinya resesi, dan meningkatkan biaya hidup bagi rata-rata keluarga AS hingga mencapai ribuan dolar per tahun. Inflasi yang dipicu oleh tarif ini juga dapat memperumit kebijakan moneter Federal Reserve, yang saat ini sedang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.
Dampak pada Wall Street dan Investor
Wall Street mengalami sesi perdagangan yang sangat bergejolak pada Rabu, 2 April 2025, dengan Dow Jones Industrial Average sempat naik 235,36 poin sebelum akhirnya kembali merosot tajam setelah pengumuman dari Donald Trump.
S&P 500 dan Nasdaq juga mengalami penurunan yang signifikan. Indeks Volatilitas CBOE (.VIX), yang merupakan ukuran ketakutan pasar, tetap berada pada level yang tinggi selama tiga sesi terakhir, yang mencerminkan ketidakpastian yang terus meningkat.
“Pernyataan dari presiden memiliki dampak yang sangat besar,” kata Christopher Wolfe, presiden dan chief investment officer Pennington Partners & Co.
“Pernyataan tersebut dapat, dan memang, mengubah kebijakan serta cara perusahaan Amerika merespons berbagai perkembangan. Inilah beban yang kita semua rasakan saat ini,” tambahnya, seperti dikutip Liputanku dari Reuters.***