Mantan Pelatih Kento Momota Bidik Kursi Pelatih Kepala Bulu Tangkis Korea Selatan

Liputanku – Kabar terbaru datang dari dunia bulu tangkis, mantan Pelatih Kepala Asosiasi Bulu Tangkis Jepang (NBA), Park Joo-bong, dikabarkan memiliki keinginan untuk kembali ke Korea Selatan, negara asalnya, setelah masa kontraknya berakhir.

Informasi ini disampaikan oleh sumber yang memiliki keterkaitan dengan Asosiasi Bulu Tangkis (BKA).

“Masa kontrak Pelatih Park dengan Asosiasi Bulu Tangkis Jepang telah usai pada bulan lalu. Sebelumnya, beliau telah menyampaikan niatnya untuk berkontribusi dalam pembinaan pemain Korea di penghujung kariernya sebagai pelatih,” demikian pernyataan yang ditulis oleh Aiyuke.

Berdasarkan laporan dari Kantor Berita Yonhap dan sejumlah media Korea lainnya, Park, yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala tim bulu tangkis nasional Jepang pada tahun lalu, dikabarkan telah mengajukan lamaran untuk posisi pelatih kepala tim bulu tangkis nasional Korea Selatan.

“Tercatat ada dua kandidat, termasuk Pelatih Park, yang telah mengajukan diri untuk mengisi posisi pelatih kepala tim nasional. Kami akan melakukan proses seleksi yang ketat melalui serangkaian wawancara dalam minggu ini untuk menentukan kandidat yang paling sesuai,” ungkap sumber dari BKA.

Park Joo-bong, yang lahir pada tahun 1964, merupakan legenda bulu tangkis yang telah mengukir sejumlah prestasi gemilang. Ia meraih medali emas ganda putra pada Olimpiade Barcelona 1992, medali perak Olimpiade Atlanta 1996, serta mengoleksi 9 gelar di sektor ganda dalam turnamen All England, dan 5 gelar Kejuaraan Dunia.

Ia dikenal luas dengan julukan “Dewa Ganda”. Park memutuskan untuk pensiun sebagai pemain pada tahun 1996. Setelah pensiun, ia mendapatkan tawaran dari Asosiasi Bulu Tangkis Inggris Raya untuk melatih ganda campuran Simon Archer/Jo Goode.

Di bawah bimbingannya, Simon Archer/Jo Goode berhasil meraih gelar juara All England Open pada tahun 1999 dan menjadi runner-up Kejuaraan Dunia. Selanjutnya, ia bergabung dengan tim Malaysia pada Oktober 1999.

Mendapat Dana Fantastis 7 Miliar Setahun, BAM Menanggapi Spekulasi Mundurnya Ganda Putri Malaysia

Selama masa baktinya di Malaysia, ganda putra Chen Zhongming/Zou Junying dan Li Wanhua/Zhong Tengfu berhasil mencapai babak semifinal Kejuaraan Dunia 2001 di bawah arahannya.

Chen Zhongming/Zou Junying bahkan pernah menduduki peringkat pertama dunia. Setelah Olimpiade Athena 2004, Park Joo-bong secara resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional bulu tangkis Jepang hingga tahun 2024.

Selama periode ini, Park melakukan serangkaian reformasi signifikan, menyatukan para pemain terbaik dari berbagai klub, dan membentuk tim pelatih yang sesuai dengan standar tim nasional.

“Sebelum saya bergabung dengan Jepang, pelatih tim bulu tangkis nasional Jepang merupakan pelatih paruh waktu dari klub, dan tidak ada pelatih tetap yang didedikasikan untuk tim nasional,” jelas Park.

“Ketika berpartisipasi dalam kompetisi internasional, pelatih paruh waktu ini menerima bayaran harian sesuai dengan standar pelatih tim nasional.”

“Suasana pada saat itu adalah seolah-olah kekalahan dalam kompetisi internasional bukanlah masalah besar, dan para pemain kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk mempersembahkan kejayaan bagi negara.”

“Saya terkejut dengan situasi ini saat itu. Singkatnya, ada banyak hal yang perlu diubah. Tidak hanya kurangnya pelatih tetap, tetapi juga fasilitas pelatihan yang memadai, serta kesadaran ideologis para pemain dan pelatih yang perlu ditingkatkan.”

Periode 2016-2019 dapat dianggap sebagai masa keemasan kepelatihan Park untuk tim Jepang.

Menjelang Olimpiade Tokyo 2020, dan dengan dukungan penuh dari Asosiasi Bulu Tangkis Jepang, sejumlah pemain berbakat berhasil muncul dan mencuri perhatian.

Di antaranya adalah Kento Momota, Akane Yamaguchi, Nozomi Okuhara, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, dan Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Namun, tim bulu tangkis Jepang menunjukkan performa yang kurang memuaskan pada Olimpiade Tokyo, dan selama periode tersebut, praktik korupsi terungkap di antara staf Asosiasi Bulu Tangkis Jepang.

Akibatnya, anggaran untuk tim nasional dipotong secara signifikan, dan bahkan latihan harian tim nasional terpaksa dibatalkan.

Beberapa pemain, seperti Watanabe, bahkan harus berpartisipasi dalam kompetisi internasional dengan biaya sendiri.

Park, yang merasa frustrasi dengan situasi ini, akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala.

“Masa kontrak Pelatih Park dengan Asosiasi Bulu Tangkis Jepang telah berakhir pada bulan lalu. Sebelumnya, beliau telah menyampaikan keinginannya untuk bekerja sama dengan para pemain Korea di fase akhir perjalanan kariernya sebagai seorang pelatih.”

Tidak Ada Lawan yang Terlalu Sulit Bagi Tunggal Indonesia, Viktor Axelsen Diperkirakan Absen pada Sudirman Cup 2025

Leave a Comment